Kamis, 26 Maret 2015

GANGGUAN ATAU PENYAKIT PADA SISTEM EKSKRESI
1. Gangguan Fungsi Ginjal
- Albuminaria merupakan kerusakan pada alat filtrasi yang menyebabkan urine mengandung albumin (protein). Keberadaan protein dapat diuji dengan biuret, apabila positif warna urine yang diberi biuret berwarna ungu
- Nefritis adalah infeksi kuman pada glomerolus sehingga asam urine kembali ke dalam darah dan disebut uremia. Uremia dapat menyebabkan penimbunan air di kaki yang disebut oedema.
- Polyuria merupakan kemampuan nefron untuk melakukan penyerapan air menurun sehingga urine menjadi banyak dan encer.
- Oligouria dan anuria adalah kerusakan ginjal secara total yang menyebabkan urine menjadi sangat sedikit atau tidak menghasilkan urine sama sekali.

2. Gangguan Sistem Hormon.
- Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan adanya gula di dalam urine. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar gula dalam darah akibat kekurangan hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas.
- Diabetes insipidus merupakan penyakit yang disebabkan kekurangan hormon antidiuretik (ADH) sehingga menyebabkan turunnya proses reabsorbsi, akibatnya urone menjadi banyak.

3. Gejala-Gejala Penyakit Ginjal.
- kencing berdarah (hematuria)
- kolik ginjal (rasa nyeri di daerah pinggang bagian belakang yang hilang dan timbuk secara terus-menerus)
- Kelopak mata dan (tungkai bawah bengkak), terutama pada pagi hari.
- kencing tidak keluar secara tiba-tiba (anuria akut)

TEKNOLOGI PENANGGULANGAN KELAINAN SISTEM EKSKRESI
1. Hemodialisis
Hemodialisis atau cuci darah adalah proses pemisahan senyawa-senyawa sisa metabolisme yang tertimbun di dalam darah dan bersifat toksik (racun) terhadap sel-sel tubuh agar senyawa-senyawa toksik tersebut dapat dipisahkan dari darah maka diperlukan alat pemisah antara darah dan sisa metaabolisme. Karena darah dan senyawa sisa metabolisme dalam bentuk larutan, maka dibuatlah alat yang dapat memisahkan senyawa toksik tersebut dengan menggunakan prinsip difusi osmosis. Pada difusi, molekul akan berpindah dari tempat yang memiliki konsentrasi molekul tinggi ke tempat yang memiliki molekul rendah, sedangkan proses osmosis khusus untuk memindahkan molekul air.

Membran semipermiabel diletakkan di antara darah penderita pada satu sisi dan larutan yang sudah diketahui susunannya (dialisis) pada sisi satunya, maka senyawa-senyawa yang dapat menembus membran bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Apabila kadar ion K dalam darah tinggi dan kadar ion K dalam bak dialisis rendah akan bergerak keluar dari darah kemudian masuk ke bak dialisis.
Sedangkan bikarbonat lebih tinggi konsentrasinya di bak dialisis sehingga arah difusinya adalah dari bak ke darah. Untuk memindahkan molekul air H2O yang banyak terdapat di dalam darah dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi gula dalam bak dialisis sehingga air mengalami difusi ke bak dialisis (proses osmosis).
Cara yang digunakan untuk memperbaiki komposisi elektrolit-elektrolit dalam darah pasien ialah menyesuaikan komposisi elektrolit dalam bak dialisis dengan komposisi yang ada pada darah manusia sehingga jika kekurangan elektrolit dapat mengambil dari bak dialisis. Sebaliknya, jika kelebihan dapat mengeluarkan ke bak dialisis.
Alat yang digunakan untuk dialisis adalah "ginjal buata" yang terbuat dari selofan atau cuprophane (hemodialisis yang terletak di luar tubuh.

2. Mesin Ginjal Buatan.

Mesin ginjal buatan (hemodialister) terdiri dari membran semipermiabel yang sederhana dengan darah di satu pihak dan cairan dialisis di pihak lain.
Pada proses ini digunakan membran buatan semi-permeabel yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Juga dipergunakan suatu mesin untuk mengalirkan darah pasien melalui salah satu sisi permukaan dari membran semi-permeabel sebelum di kembalikan ke sirkulasi darah tubuh pasien. Pada saat yang sama cairan hemodialisis dipompakan ke dalam mesin dan dialirkan melalui sisi lain dari permukaan semi-permeabel, sehingga terjadi pertukaran ion antara darah pasien dengan cairan hemodialisis. Melalui membran semi-permeabel yang mengandung lubang-lubang kecil tersebut produk-produk sisa dari darah pasien seperti urea, kreatinin, fosfat, kalium dan lainnya termasuk kelebihan air serta garam dari tubuh akan lewat dan masuk ke dalam cairan hemodialisis yang mengalir dengan arah berlawanan dari aliran darah pasien. Walaupun demikian, protein dan sel-sel darah tidak dapat menembus melalui lubang-lubang kecil dalam membran semi-permeabel tersebut. Bakteri dan virus yang mungkin mengkontaminasi cairan hemodialisis juga tidak dapat masuk ke dalam aliran darah pasien melalui membran tersebut karena ukurannya lebih besar dari lubang-lubang kecil tersebut.
Proses kerja alat adalah sebagai berikut:
Proses perpindahan molekul antara darah dan dialisat (cairan dialisis) terjadi disepanjang membran dialisis melalui difusi dan iltra filtrasi (pembuangan air)

Komposisi cairan dialisis diukur konsentrasinya sehingga mendekati komposisi ion darah normal dan sedikit dimodifikasi agar dapat memperbaiki gangguan cairan dan elektrolit yang sering menyertai gagal ginjal. Uunsur-unsur yang ditambahkan seperti yang terdapat dalam darah, yaitu ion Na, K, Mg, Cl, asetat dan glukosa.
Dengan tingginya kadar urea,kreatin, asam urat dan phosfatdalam darah ke cairan dialisis.
Walaupun hemodialisis berfungsi mirip dengan cara kerja ginjal, tindakan ini hanya mampu menggantikan sekitar 10% kapasitas ginjal normal. Selain itu, hemodialisis bukannya tanpa efek samping. Beberapa efek samping hemodialisis antara lain tekanan darah rendah, anemia, kram otot, detak jantung tak teratur, mual, muntah, sakit kepala, infeksi, pembekuan darah (trombus), dan udara dalam pembuluh darah (emboli)
Pada gagal ginjal kronik, hemodialisis biasanya dilakukan 3 kali seminggu. Satu sesi hemodialisis memakan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Selama ginjal tidak berfungsi, selama itu pula hemodialisis harus dilakukan, kecuali ginjal yang rusak diganti ginjal yang baru dari donor. Tetapi, proses pencangkokan ginjal sangat rumit dan membutuhkan biaya besar.(Sumber :http://felix12-myworld.blogspot.com/2009/05/hemodialisis-mesin-ginjal-buatan.html)

3. Transplantasi Ginjal.
Transplantasi ginjal atau cangkok ginjal adalah salah satu prosedur transplantasi organ yang paling sering dan paling berhasil dilakukan saat ini. Karena semakin berkembangnya teknologi kedokteran, transplantasi ginjal akhirnya menjadi solusi yang telah menyelamatkan nyawa ribuan penderita penyakit ginjal stadium akhir.
Bagi penderita gagal ginjal yang tidak direncanakan untuk menjalani transplantasi ginjal, perawatan dialisis (cuci darah) dapat menunjang keberlangsungan hidup mereka.
Sekitar 30 persen penderita gagal ginjal cocok untuk menjalani transplantasi ginjal, prosedur pembedahan untuk mengembalikan  fungsi ginjal dengan mengganti dua ginjal yang gagal atau rusak dengan satu ginjal yang sehat.
Sekitar setengah dari transplantasi ginjal berasal dari donor non-hidup (meninggal), meskipun anggota keluarga, pasangan (donor hidup) dan teman-teman (donor hidup) dapat dengan aman mendonorkan satu ginjal mereka jika dalam tes dibuktikan bahwa mereka dapat hidup normal dengan satu ginjal setelah mereka mendonorkan satu ginjal mereka.
Ginjal baru yang diterima biasanya ditempatkan di perut bagian bawah  tanpa perlu mengangkat kedua ginjal yang sudah rusak, inilah alasan mengapa transplantasi ginjal juga sering disebut sebagai cangkok ginjal. Arteri ginjal baru akan disambungkan ke salah satu arteri panggul pasien. Begitu pula vena ginjal baru akan disambungkan ke ke salah satu pembuluh darah di panggul pasien. Ureter ginjal baru, saluran yang mengalirkan urin dari ginjal, dihubungkan ke kandung kemih atau ke salah satu ureter pasien. Pada anak-anak, pembuluh darah dari ginjal orang dewasa yang besar seringkali dihubungkan ke aorta dan vena cava inferior anak. (sumber :http://www.medkes.com/2015/01/transplantasi-ginjal-cangkok-ginjal.html)
Penolakan Transplantasi ginjal
Sifat alami pertahanan imunologik tubuh dalam melawan masuknya protein asing dengan usaha untuk menolak organ tersebut disebabkan oleh :
- golongan darah tidak sesuai

Sumber :
BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas XI, R Gunawan Susilowarno, dkk, Penerbit Grasindo, 2007


0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!