Sabtu, 24 Januari 2015

IKATAN KOVALEN KOORDINASI

Masih ingat bagaimana terbentuknya ikatan kovalen? Ikatan kovalen terjadi karena adanya penggunaan elektron secara bersama-sama. Proses terbentuknya ikatan kovalen berbeda dengan ikatan kovalen koordinasi. Bagaimanakan proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi?
Pada materi kali ini, akan kita pelajari tentang ikatan kovalen koordinasindan contoh ikatan kovalen koordinasi senyawa sederha. Kita akan memehami perbedaan ikatan kovalen dan ikatan kovalen koordinasi dengan memahami uraian bearikut :
Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen yang terjadi karena pasagan elektron yang digunakan secara bersama berasal dari salah satu atom.
Pada gambar disamping Struktur Lewis untuk molekul SO3 terdapat  :
- ikatan kovalen rangkap 2
- 2 pasang ikatan kovalen ikatan koordinasi
Pada ikatan kovalen baik atom O dan atom S saling menyumbangkan elektronnya untuk dipakai bersama.
Pada ikatan kovalen koordinasi terlihat atom O menyumbangkan 2 elektron yang dipakai bersama-sama dengan atom S, sedangkan atom S hanya sekedar memakai saja.

Ikatan kovalen koordinasi biasanya digambarkan dengan tanda panah (→) dari kovalen penyumbang elektron (donor) ke atom penerima elektron (akseptor)
Perhatikan contoh berikut!

1. ikatan pada ion 
Molekul NH3 jika dimasukkan ke dalam larutan asam (NH4+)
Molekul NH3 jika dimasukkan ke dalam larutan asam (mengandungion H+), maka atom pusat N dapat mengikat ion H+ membentuk ion NH4 +

Ikatan antar atom N dan ion H+ dalam ion NH4+ dapat terbentuk karena ion H+ mempunyai tempat kosong pada kulit elektronnya ( 1 elektron dari atom H dilepaskan sehingga membentuk ion H+). Ion H+ yang kehilangan elektronny dapat mencapai kestabilan dengan menggunakan 2 elektron dari atom N (aturan duplet). Sementara itu, atom N mencapai kestabilan (aturan octet) tanpa menggunakan elektron dari ion H+. Jadi, atom N bertindak sebagai donor kepada ion H+ yang bertindak sebagai akseptor. Tanda anak panah digambarkan dari atom N ke ion H+.



2. Ikatan pada molekul asam sulfit (H2SO3)
Pada molekul H2SO3, atom H berikatan dengan atom O untuk mencapai kestabilan (aturan duplet). Atom O (di sebelah atom H) mempunyai 6 elektron valensi sehingga mencapai kestabilan perlu ditambah 2 elektron (aturan octet). Kekurangan elektron tersebut diambil dari atom H dan atom O masing-masing 1 elektron dan elektron tersebut digunakan secara bersama. Sementara itu, atom S yang mempunyai 6 elektron valensi masih kekurangan 2 elektron untuk mencapai kestabilan (aturan oktet). Atom S menerima 1 elektron dari atom O disebelah kanan dan kirinya karena atom juga memberikan 1 elektron. Dengan demikian, terjadi penggunaan elektron bersama antara atom O dan S tersebut. Atom O (di bagian bawah) kekurangan 2 elektron untuk mencapai kestabilan (aturan oktet), maka atom O menerima elektron dari atom S, tetapi atom S tidak menggunakan elektron dari atom O (atau atom S sebagai donor elektron).
Jenis ikatan seperti ini disebut ikatan kovalen koordinasi.

IKATAN LOGAM
Logam banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Coba kalau kita menyebutkan contoh logam yang ada di lingkungan sekitar  kita. Dalam suatu logam terdapat ikatan kimia yang disebut ikatan logam. Lalu bagaimana terbentuknya ikatan logam?
Kita akan menemukan jawabannya jika kita telah mempelajari materi berikut ini. Pada bahasan kali ini akan kita pelajari proses terbentuknnya ikatan logam dan memprediksi jenis ikatan yanng terjadi pada berbagai senyawa dan membandingkan sifat fisiknya.
1. Proses Terbentuknya Ikatan Logam
Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi akibat penggunaan bersama elektron-elektron valensi antaratom logam. Ikatan ion tidak mungkin teradapat di antara atom-atom logam karena tidak terjadi perpindahan elektron dari suatu atom logam ke atom logam lain yang sejenis. Ikatan kovalen juga tidak mungkin terbentuk karena dalam kristal logam, ternyata sebuah atom dikelilingi oleh 8 atau 12 atom yang lain, sedangkan elektron valensi dari logam-logam adalah 1, 2, 3 atau 4.
Ikatan logam dapat dijelaskan dengan teori awan elektron yang dikemukakan oleh Drude dan Lorentz pada awal abad ke-20. Menurut teori ini, setiap atom dalam kristal logam melepaskan elektron valensinya sehingga terbentuk awan elektron dan kation yang bermuatan positif dan tersusun dalam awan elektron tersebut. Ion logam yang bermuatan positif berada pada jarak tertentu satu dengan yang lainnya dalam kristalnya. Elektron tidak berikatan pada salah satu ion logam atau pasangan ion logam sehingga elektron valensi tersebut bebas bergerak ke seluruh bagian dari kristal logam.
 Menurut teori awan elektron, kristal logam terdiri atas kumpulan ion logam bermuatan positif dalam lautan elektron yang mudah bergerak. Ikatan logam terdapat di antara ion logam dan elektron yang mudah bergerak. Teori awan elektron dapat digunakan untuk menjelaskan sifat fisis logam.
2. Sifat Fisis Logam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menjumpai peralatan atau benda-benda yang terbuat dari logam. Alat-alat masak seperti wajan, panci, ketel dan lain sebagainya terbuat dari logam. Atom-atom dari logam tersebut bergabung melalui ikatan logam.
Sifat-sifat fisis logam ditentukan oleh ikatan logamnya yang kuat, kerapatan struktur dan keberadaan elektron-elektron bebas. Sifat fisis logam sebagai berikut :
- Wujud zat pada suhu kamar, logam berupa padatan
- Tingkat kekerasan, logam bersifat keras, tetapi lentur atau tidak mudah patah jika ditempa.
- titik leleh dan titik didih, logam mempunyai titik didih dan titik leleh yang ta inggi.
- Daya hantar listrik, logam dapat menghantarkan listrik yang baik.
- Dya hantar panas, logam dapat menghantarkan panas dengan baik.
- Permukaan logam, logam mempunyai permukaan yang mengkilap.
Berikut terlihat gambar berbagai alat masak yang terbuat dari bahan logam 

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!