Selasa, 27 Januari 2015

Kelompok hewan ini disebut Platyhelmintes (cacing pipih) dikarenakan mempunyai bentuk tubuh pipih (platy), helminthes (cacing).
Ciri-ciri cacing pipih adalah sebagai berikut :
- bersifat triploblastik aselomata, yaitu mempunyai lapisan embrional 3 lapis (ectodem, mesoderm dan endoderm), dan tidak mempunyai selom (rongga tubuh).
- rongga pencernaan berupa ruang gastrovaskular yang tidak mempunyai anus;
- simetri tubuhnya bilateral;
- tubuhnya lunak, pada epdermisnya mengandung silia;
- pada umumnya hidup sebagai parasit, kecuali planaria yang hidup di air tawar;
- tidak mempunyai sistem peredaran darah;
- pernapasan dilakukan dengan permukaan tubuh dan ruang gastrovaskuler;
- reproduksi secara vegetatif dan generatif, secara vegetatif dengan fragmentasi, contohnya Planaria, mempunyai daya regenerasi sangat tinggi. Reproduksi secara generatif dengan fertilisasi silang, umumnya bersifat hermaprodit.
Platyhelminthes atau cacing pipih diklasifikasikan berdasarkan segmentasi tubuh, ada tidaknya silia, dan alat isap serta alat pencernaan, dan cara hidupnya menjadi tiga kelas, yaitu Turbelaria, Trematoda dan Cestoda.

1. Turbelaria
Ciri-ciri tubuhnya sebagai berikut :
- habitat sebagian besar di laut dan sebagian kecil bebas di air tawar, banyak dijumpai di sungai atau kolam yang tidak terpolusi;
- tubuhnya tidak bersegmen
- tubuhnya tertutup silia;
- pada bagian mulut tidak mempunyai alat isap;
- alat pencernaannya tidak sempurna, karena tidak mempunyai anus.
Contohya adalah Planaria (Dugesia sp).
Ciri-ciri planaria sebagai berikut : panjang antara 0,5 - 2,5 cm, mempunyai kepala yang mengandung sepasang bintik mata untuk mendeteksi cahaya, dan mempunyai sitofaring yang dapat dijulurkan untuk indera penciuman dan menangkap mangsa; tubuhnya berwarna putih transparan dan silia sebagai alat gerak; alat ekskresinya berupa sel api (flame cell) yang merupakan sel-sel bersilia yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan osmotik dengan lingkungannya; sistem saraf tangga tali; mempunyai kemampuan regenerasi yang sangat tinggi; merupakan karnivora karena memangsa hewan yang lebih kecil atau hewan yang sudah mati.

2. Trematoda
Cacing ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : hidup secara parasit pada tubuh manusia; tubuhnya tidak bersegmen; permukaan tubuhnya tidak bersilia; mulutnya mempunyai alat isap (sucker) berjumlah dua; alat pencernaannya tidak sempurna karena tidak mempunyai anus; alat ekskresinya dengan sel api (flame cell)
Contoh :
Fasciola hepatica (cacing hati);
Chloronchis sinensis (cacing hati manusia), dan
Shistosoma japonicum (cacing darah),
Paragonimus wetermanii;
Faciolopsis buscii 

a)Fasciola hepatica atau disebut juga Cacing hati


 Cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5 – 3 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat bergerak. 
Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 500.000 butir. Hati seekor domba dapat mengandung 200 ekor cacing atau lebih.  Karena jumlah telurnya sangat banyak, maka akan keluar dari tubuh ternak melalui saluran empedu atau usus bercampur kotoran. Jika ternak tersebut mengeluarkan kotoran, maka telurnya juga akan keluar, jika berada di tempat yang basah, maka akan menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Larva tersebut akan berenang, apabila bertemu dengan siput  Lymnea auricularis akan menempel pada mantel siput. Di dalam tubuh siput, silia sudah tidak berguna lagi dan berubah menjadi sporokista. Sporokista dapat menghasilkan larva lain secara partenogenesis yang disebut redia yang juga mengalami partenogensis membentuk serkaria. Setelah terbentuk serkaria, maka akan meninggalkan tubuh siput dan akan berenang sehingga dapat menempel pada rumput sekitar kolam/sawah. Apabila keadaan lingkungan tidak baik, misalnya kering maka kulitnya akan menebal dan akan berubah menjadi metaserkaria. Pada saat ternak makan rumput yang mengandung metaserkaria, maka sista akan menetas di usus ternak dan akan menerobos ke dalam hati ternak dan berkembang menjadi cacing muda, demikian seterusnya.



b) Chloronorchis sinensis (cacing hati manusia) 
Penyebaran
Clonorchis Sinensis ditemukan terutama di Asia timur dan selatan juga di Asia Pasifik.Cacing ini menyebar di berbagai negara seperti China, Korea, Vietnam, Taiwan, jepang, dan lain-lain. Penyakit yang di temukan di indonesia bukan infeksi autokon.
Habitat
Dalam daur hidupnya Clonorcis sinensis mempunyai dua hospes parantara dan hospes definit.Hospes perantara pertamanya bekicot terutama Parafossarulus manchouricus,spesies dari genus Bulinus ,Bythinia,Semisulchospira,Alocinna,Tiara.Hospes perantara kedua nya adalah ikan air tawar dari genus Cyprinidae. Cacing dewasa hidup pada saluran empedu manusia Ductus choleductus,manusia adalah hospes definitif dari cacing ini. Selain manusia hospes definitif dari cacing Clonorchis sinensis bisa juga hewan-hewan karnifora yang memakan ikan yang terinfeksi meta serkariaClonorchis sinensis.
Morfologi
Telur : Telur berbentuk oval seperti kendi operkulum besar ,bagian posteriornya menebal dan biasanya ada tonjolan kecil.Telur berisi mirasiduim,ukuran telur 25-35 X 12-19 mikron,dan warna telur kuning.
Larva : Dalam siklus hidupnya setelah keluar dari telur cacing Clonorchis sinensisberkembang berturut-turut menjadi beberapa bentuk larva mirasidium(berenang di air);sporokista,redia,serkaria(dalam tubuh tubuh bekicot);Metaserkaria(dalam tubuh ikan dan hospes definitif).
Mirasidium : Berbentuk oval dan memiliki silia(rambut getar).
Sprokokista : Berbentuk kantong dan mengandung sel-sel germinal .Sel-sel germinal membentuk membentuk sporokista generasi kedua atau redia.
Redia : Berbentuk kantong,memiliki faring yang nyata dan usus rudimenter.Mengandung sel germinal yang akan berkembang menjadi redia generasi kedua atau serkaria.
Serkaria : Berwarna coklat,berekor,memiliki dorsal dan ventral sirip untuk bergerak, bintik mata yang berfungsi sebagai alat sensori,dan kutikula dengan duri-duri kecil.
Metaserkaria : Meta serkaria merupakan stadium larva berbentuk kista berkembang.Kista memiliki dinding yang sangat tebal organ larva seperti bintik mata,ekor dan stiletnya telah hilang.
Cacing dewasa : Cacing pipih berbentuk daun.Bagian posteriornya membulat dan pada integumenya tidak ditemukan duri.Ukuran cacing dewasa 10-25 X 3-5mm.Batil isap kepala lebih besar dari pada batil isap perut.Testis berlobus dalam tersusun membentuk tandem dan terletak dibagian posterior tubuh .Ovarioum terletak dibagian anterior testis pada bagian tengah tubuh .porus genital di depan dakat batili sap perut,uterus berisi telur bermuara pada porus genital.Filtelaria membentuk folikel-folikel lembut dan ter letak di lateral tubuh.
Siklus Hidup
Telur akan menetas dan mengeluarkan mirasidium bila termakan hospes perantara I keong air.Dalam keong air akan berturut-turut berkembang menjadi sporokista ridia I,redia II,dan serkaria.Serkaria keluar keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II(famili Cyprinidae).Serkaria menembus hospes perantara dua dan melepaskan ekornya .Dalam tubuh hospes perantara II serkaria membuntuk kista yang disebut metaserkaria(bentuk infektif).Dalam duodenum metaserkaria pecah kemudian mengeluarkan larva dan kemudian masuk kedalam saluran empedu.Setelah satu bulan didalm saluran empedu,larva berkembang menjadi dewasa.


c) Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni (cacing darah) 
Schystosoma japonicum atau disebut juga Cacing darah . 
Disebut cacing darah karena hidup di dalampembuluh darah balik atau vena pada manusia, kucing, babi, sapi, biri-biri dan anjing, juga binatang pengerat. Banyak dijumpai di daerah Asia Tenggara dan Mediterania, di Indonesia banyak di temukan di Sulawesi. 
Ukuran cacing jantan lebih besar daripada cacing betina. Tampak tubuh cacing jantan melipat menutupi tubuh cacing betina yang lebih ramping. Jika cacing ini menulari manusia, maka akan menyebabkan penyakit schystomosis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Asia dan Afrika.  Seseorang yang menderita penyakit ini akan mengalami kerusakan hati, kelainan jantung, limpa, ginjal, dan kantung kemih. 
Daur hidup cacing ini hampir sama dengan cacing hati. Telur yang dihasilkan akan keluar dari tubuh inang, kemudian akan ikut bersama kotoran dan menetas di dalam air. Oleh sebab itulah hendaklah kita minum air yang telah direbus sampai matang agar terbebas dari telur cacing ini. 

3. Cestoda
Ciri-ciri sebagai berikut :
  • Merupakan cacing berbentuk pipih panjang seperti pita
  • Cacing dewasa hidup pada saluran usus vertebrata, larvanya hidup pada jaringan vertebrata dan invertebrata
  • Badannya bersegmen-segmen (disebut proglotid), bl dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina
  • Bagian anterior berubah menjadi alat pelekat disebut skoleks
  • Telur dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus
  • Telur berisi embrio (disebut onkosfer) berubah menjadi bentuk infektif (larva) dalam hospes perantara
Infeksi terjadi dengan menelan larva infektif atau telur.
Contoh spesies cacing ini adalah : 
 Taenia saginata (cacing pita sapi);  
Taenia solium (Cacing pita babi); 
Echinococus granulosus ; 
Diphyllobothrium latum;
Hymenolepis nana

a) Taenia saginata
Penyakit :   Taeniasis saginata;   Hospes : manusia;    Hospes perantara : sapi, kerbau dan lain-lain;     Distribusi geografik: kosmopolit;       Habitat : usus halus
Morfologi : 
cacing dewasa : ukuran 4-8 m, skoleks Ø 1-2 mm dgn batil isap tanpa kait2, proglotid gravid ukuran 7 x 20 mm dengan uterus 15 – 30 pasang, produksi telur 100.000
 telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran  30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus bovis
Siklus hidup : proglotid gravid (100.000 telur) aktif keluar  telur (embrio heksakan) tertelan HP (sapi)  larva (sistiserkus bovis) termakan manusia skoleks keluar  melekat pada mukosa usus halus  dewasa (8-10 minggu)
Gejala klinis : disebabkan cacing dewasa : bersifat ringan (ulu hati sakit, perut tidak enak,mual dan muntah, pusing) bersifat berat (apendisitis karena proglotid masuk apendiks, obstruksi usus ileus)


b) Taenia solium
Penyakit : Taeniasis solium (karena cacing  dewasa) sistiserkosis (karena larvanya);    Hospes : manusia
Hospes perantara : babi dan  manusia;   Distribusi geografik: kosmopolit ;   Habitat : usus halus
Morfologi :cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks Ø 1 mm dgn batil isap dan  kait-kait, proglotid gravid ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang, produksi telur 30.000 – 50.000
Telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
Larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus selulose
Siklus hidup : proglotid gravid (100.000 telur) keluar bersama tinja telur tertelan manusia sistiserkosis di otot,mata, otak, kulit dan lain-lain,
telur tertelan HP (babi) , larva (sistiserkus selulose) , termakan manusia , skoleks keluar , melekat pada mukosa usus halus , dewasa (8-10 minggu)
Epidemiologi : banyak ditemukan pada penduduk pemakan babi;   cara makan daging  berperan;   cara beternak babi  penting

c) Echinococcus granulosus
Penyakit : hidatidosis (karena larvanya);   Hospes : anjing dan carnivora lain;   Hospes perantara : kambing, manusia, onta, babi;   Distribusi geografik: Australia Selatan, Amerika Selatan, Afrika, Eropa, RRC, Jepang, Negara-negara Arab ;   Habitat : usus halus anjing
Morfologi :
- cacing dewasa :  terdiri dari  3 proglotid (imatur, mature, gravid), ukuran 3 – 6 mm, skoleks bulat dengan batil isap dan  kait-kait
- Telur : dikeluarkan bersama tinja anjing
Siklus hidup :
Telur dikeluarkan bersama tinja anjing tertelan oleh inang (kambing, manusia dan lain-lain) telur menetas di rongga duodenum  embrio menembus dinding usus   saluran limfe dan pembuluh darah   ke alat-alat dalam (hati, paru, otak dan lain-lain)  membentuk kista hidatid.
Bila kista termakan anjing cacing dewasa
Epidemiologi : Hidatidosis penting pada daerah ternak domba yang berhubungan anjing.

Materi pelajaran Kingdom Animalia lainnya :
  1. ANNELIDA
  2. ARACHNIDA
  3. ARTHROPODA
  4. CHORDATA
  5. CRUSTACEA
  6. ECHINODERMATA (HEWAN BERKULIT DURI)
  7. INSEKTA
  8. KINGDOM PARAZOA (FILUM PORIFERA)
  9. KINGDOM RADIATA
  10. MOLLUSCA (HEWAN LUNAK)
  11. MYRIAPODA
  12. NEMATHELMINTHES
  13. ORDO-ORDO DARI EKSOPTERYGOTA
  14. ORDO-ORDO DARI ENDOPTERYGOTA
  15. PERKEMBANGAN HEWAN
  16. PLATYHELMINTHES
  17. REPTIL, AVES, DAN MAMALIA
  18. soal animalia

Sumber :
https://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Fasciola_hepatica
R. Gunawan Susilowarno dkk, BIOLOGI untuk Kelas X, Penerbit Grasindo 2007
Istamar Syamsuri dkk, Biologi  Untuk SMA kelas X Semester 2, Penerbit Erlangga, 2007
http://analiskesehatan-indonesia.blogspot.com/2011/04/clonorchis-sinensis_08.html


 

0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!