Jumat, 21 November 2014

ZAT ADITIF PADA MAKANAN

A.      FUNGSI ZAT ADITIF
Zat aditif yang ditambahkan pada makanan bukanlah masalah baru. Sejak zaman prasejarah, manusia telah mengunakan garam untuk mengawetkan ikan dan daging. Rempah-rempah sudah digunakan pada masa Mesopotamia Purba sebagai bumbu dan pengharum makanan. Peralihan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri serta makin meningkatnya proses urbanisasi telah meningkatkan penggunaan zat aditif pada makanan.
Pada zaman modern dewasa ini, kompetitif pemasaran menyebabkan kalangan industri memakai lebih banyak zat aditif agar produk makanan mereka lebih lezat dan menarik. Di samping itu zat aditif yang memang perlu ditambahkan untuk meningkatkan nilai gizi makanan, biasanya lebih banyak lagi zat aditif yang tidak mengandung nilai gizi. Zat yang terakhir disebut ini meliputi zat pewarna, zat pengawet, zat penyedap, zat pemanis, dan zat pengharum. Karena zat aditif sangat banyak, orang lebih sering memperingatkan agar kita hati-hati dengan makanan yang mengandung zat kimia. Sudah tentu pemikiran tersebut agak lucu, sebab makanan sendiri adalah zat kimia. Yang perlu kita perhatikan adalah beberapa zat kimia tertentu dalam makanan yng mungkin membahayakan kesehatan kkita.
Tidak dapat kita sangkal bahwa zat aditif banyak menguntungkan dan berguna bagi kesehatan. Untuk mencegah penyakit gondok, tubuh kitaa perlu iodin yang cukup sehingga garam dapur, NaCl perlu ditambahkan kalium iodida, KI atau kalium iodat, KIO3.
Jika kita banyak memakan bahan segar dari alam, mungkin tubuh kita memerlukan vitamin tambahan. Akan tetapi, pada zaman modern ini makin banyak makanan yang diproses oleh pabrik dan pengolahannya sering mengurangi vitamin yang dikandung makanan tersebut. Oleh karena itu, pada makanan produk industri perlu ditambahkan vitamin tertentu. Misalnya, vitamin A ditambahkan pada margarin, vitamin B1 pada beras, vitamin C pada minuman botol dan vitamin B pada susu.


B.      JENIS ZAT ADITIF

1.       Zat pewarna
Zat pewarna dimaksud untuk membuat makanan lebih menarik sehingga diharapkan nafsu makan bertambah dan dari segi bisnis makanan makin laris. Zat pewarna yang diperoleh dari bahan nabati (tumbuhan) umunyatidak menimbulkan efek samping, misalnya warna merah pada tomat, kuning pada kunyit, oranye pada wortel, hijau dari daun suji atau daun pandan, dan sebagainya. Ada juga zat pewarna yang berfungsi sebagai zat tambahan, misalnya β-karoten dari wortel yang dipakai untuk mewaarnai mentega dan margarin. Tubuh kita akan mengubah β-karoten menjadi vitamin A. Akan tetapi, kebanyakan zat pewarna akan berfungsi untuk estetika dan tidak mengandung zat gizi.
Dalam bidang industri kini makin banyak  dipakai zat pewarna sintesis, karena zat pewarna alami mumadah memudar dan kurang cemerlang warnyanya. Sudah tentu zat-zat sintetik ini tidak boleh membahayakan kesehatan. Di Amerika Serikat, badan FDA (Food and Drug Administration) telah melarang pemakaian beberapa zat pewarna makanan yang terbukti bersifat karsinogenik (penyebab kanker)

2.       Zat penyedap
Zat penyedap makanan yang banyak digunakan adalah natrium glutamat atau MSG (monosodium Glutamate) yang dalam bahasa sehari-hari disebut vetsin.
  HOOC  -   CH2   -   CH2   -   CH   - COONa
                                NH2
Akhir-akhir ini MSG disinyalir dapat menimbulkan sakit kepala, sesak napas, dan mudah letih jika dikonsumsi secara berlebihan. Gejala ini sering disebut sindrom restouran Cina

3.       Zat pemanis
Untuk mencegah kegemukan, kini banyak dipakai zat pemanis yang tidak berkalori sebagai pengganti gula. Zat pemanis yang paling banyak digunakan dalam makanan dan obat-obatan adalah sakarin yang manisnya 500 kali gula dan natrium siklamat yang manisnya 50 kali gula. Akan tetapi, sejak dasawarsa 1970-an badan FDA di amerika serikat telah melarang penggunaan natrium siklamat, yang dicurigai, sebagai penyebab kanker.
        natrium siklamat            sakarin  


Pada permen-permen kini banyak dipakai sorbitol, yaitu senyawa polihidroksi yang mengandung kalori sama dengan gula dibandingkan gula kenggulannya adalah tidak terurai dalam mulut sihingga tidak merusak gigi. Akan tetapi , pemakaian sorbitol yang terlalu banyak dapat menimbulkan diare.

4.       Zat pengharum
Zat pengharum pada makanan umumnya merupakan ester yang memberikan aroma buah seperti amil asetat (pisang), amil valerat (apel), etil butirat (nanas), butil propionat (rum), dan propil asetat(pear)
Diantara zat aditif pada makanan, zat pengharum ini boleh dikatakan paling aman dan belum pernah terdengan menimbulkan efek yang merugikan.

5.       Zat pengawet
Penambahan zat pengawet pada makanan bertujuan untuk menghambat pertumbuhan jamur atau bakteri serta untuk memperlambat proses oksidasi yang dapat merusak makanan. Makanan produk industri yang mengandung minyak tumbuhan atau lemak hewan sangat perlu ditambahi zat pengawet.
Untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, zat pengawet yang banyak dipakai adalah natrium benzoat. Zat ini aman dan tidak berbahaya, adapun untuk memperlambat oksidasi, sering digunakan dua jenis zat antioksidan yang bernama BHT (butil hidroksi toluena) dan BHA (butil hidroksi anisol)



Penelitian terakhir menunjukkan bahwa pemakaian BHT sebagai pengawet mengandung keuntungan dan kejelekan. BHT dapat menyembuhkan tumor dan membuat awet muda. Akan tetapi BHT dapat menimbulkan alergi.

SOAL EVALUASI ZAT ADITIF PADA MAKANAN

0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!