Senin, 20 April 2015

Di lingkungan sekitar kita sering dijumpai daun tanaman dimakan ulat atau belalang. Sedangkan, ulat atau belalang tersebut kemudian menjadi makanan burung-burung kecil.
Antara populasi dalam ekosistem selalu terjadi interaksi dalam hal makan dan dimakan. Tumbuhan hijau merupakan produsen, yaitu organisme pembentuk energi kimia dan energi cahaya melalui proses fotosintesis. Energi kimia ini, merupakan makanan bagi hewan (konsumen). Jika dilihat urutan dalam hal makan dan dimakan, produsen selalu dimanfaatkan oleh hewan-hewan herbivora sebagai konsumen, sedangkan hewan-hewan herbivora dimakan oleh konsumen tingkat II (karnivora) dan konsumen tingkat II akan dimakan oleh konsumen tingkat III dan seterusnya. Sisa-sisa organisme (produsen dan konsumen) akan dimanfaatkan oleh bakteri pengurai (dekomposer) yang terdiri dari jamur saprofit dan bakteri pembusuk.
Perputaran energi kimia (makanan) dari produsen dan konsumen, dan dari konsumen ke konsumen II, dan seterusnya disebut rantai makanan (food chain). Rantai makanan sering diartikan sebagai proses perpindahan materi dan energi melelui peristiwa makan dan dimakan yang berbentuk linier/garis lurus. Tingkat-tingkat dalam rantai makanan disebut dengan taraf /tingkat trofik. Jika awal mata rantai/tingkat trofik I terdiri atas produsen maka rantai makanan disebut rantai makanan perumput. Sedangkan kalau awal mata rantai/tingkat trofik I berupa sisa-sisa zat organik yang telah hancur (detritus) maka rantai makanan disebut rantai makanan detritus.


Jalur makan dan dimakan dari organisme pada satu tingkat trofik berikutnya membentuk urutan dan arah tertentu disebut rantai makanan. Rantai makanan yang dimulai dari perumput, yaitu rumput  -  belalang  - kadal -  burung elang. 
Contoh rantai makanan detritus : Detritus (seresah daun) - cacing tanah - itik.Contoh lainnya yaitu hancuran kotoran hewan – nematoda – kutu acarina – kalajengking. 

Penerapan konsep interaksi kompetisi dan rantai makanan dalam komunitas di dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut :
* pemberantasan hama secara biologis, yaitu dengan ,mengembangkan musuh alami atau predator. 
Musuh alami merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang dapat dimanfaatkan pada segala pola tanam. Pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami memberikan banyak keuntungan di samping aman terhadap lingkungan, berkembang secara alami di lapang, apabila keberadaannya dapat diusahakan sejak awal akan efektif menekan perkembangan populasi hama.

Predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup, seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya.
Contohnya pemberantasan kutu loncat dengan musuh alami yang berupa kumbang koksi.
Musuh Alami Hama lainnya :
Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)
Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)
Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)
Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)
Kinjeng Dom (Agriocnemis spp.)
Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)
Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)
**Bercocok tanam dengan sistem tumpangsari, misalnya menanam kacang tanah sekaligus menanam singkong pada lahan yang sama, padi dengan jagung, serta coklat dengan kedelai.

Interaksi antar individu atau antar populasi di dalam suatu komunitas dapat memberikan nilai untuk pengenbangan lingkungan hidup antara lain sebagai berikut :
- terjadinya interaksi antarpopulasi akan memberikan dampak pada terbentuknya keseimbangan alam
- keterbatasan daya dukung suatu areal pertanian, kolam akan mendorong petani untuk meningkatkan produktivitasnya.
- adakalanya interaksi mendorong berlangsungnya suksesi yang mengarah terbentuknya komunitas yang stabil dan dinamis
- adanya faktor pembatas makhluk di alam, dimana adanya predator bagi populasi spesies lain merupakan faktor pengendali pertumbuhan populasi.

Jaring-Jaring Makanan
Beberapa makanan yang bergabung , berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk jaring-jaring makanan. Atau dapat dikatakan perpindahan materi dan energi melalui peristiwa makan dan dimakan membentuk jaring-jaring makanan.



http://refdt.ru/docs/23587/index-619.html
http://budisma.web.id/pengertian-rantai-makanan-dan-contoh-rantai-makanan/
https://aslam02.wordpress.com/materi/kelas-x-2/ekosistem/pola-pola-interaksi/
https://agroinfotek.wordpress.com/2011/04/12/
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!