Kamis, 23 April 2015

Serbuk sari tumbuhan yang terbentuk di dalam kepala sari merupakan alat kelamin jantan sedangkan putik merupakan alat kelamin betina. Di dalam serbuk sari terdapat gamet jantan (sperma) sedangkan gamet betina (ovum)tersimpan dalam ovarium di dalam bakal buah, sehingga kepala putik dan buluh putik sebenarnya bukan gamet betina tetapi hanya alat dari sperma untuk mencapai ovum yang berjarak relatif jauh dari sperma.

1. Mikrosporogenesis
Benang sari merupakan alat kelamin jantan tumbuhan memiliki 3 bagian, yaitu kepala sari (anthera), tangkai sari (filamentum) dan penghubung ruang sari (coonectivum)
Kepala sari merupakan tempat terbentuknya serbuk sari (pollen). Pollen bagi tumbuhan merupakan sel kelamin jantan, oleh karena itu pembentukan pollen melalui meiosis yang disertai pembelahan mitosis.
- di dalam polen terdapat sel induk atau mikrosporogonium yang ebrsifat diploid (2n)
- melalui pembelahan meiosis, mikrosporogonium (mikrosporocyt) membelah dua kali yaitu meiosis I dengan fase profase I, metafase I. anafase I, dan telofase I tanpa ada cytokenesis sehingga dua sel anak yang dihasilkan menyatu.
- dua anak sel baru yang terbentuk kemudian masing-masing membelah secara meiosis II dengan fase profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II sehingga membentuk 4 sel anak yang masing-masing disebut mikrospora.
- satu mikrospora inilah yang disebut dengan satu sebuk sari. Inti serbuk sari kemudian membelah secara mitosis menjadi 2 inti. 2 inti yaitu inti generatif (sperma) dan inti vegetatif.
- setelah terjadi peyerbukan dan mencapai buluh putik, inti generatif kemudian membelah secara mitosis menjadi 2, sehingga satu serbuk sari memiliki 3 inti (1 inti vegetatif dan 2 inti generatif/inti sperma).

2. Megasporogenesis
 Pengertian putik (pistillium) secara umum adalah alat kelamin betina, tetapi kelenjar kelamin betinannya berupa ovarium, sedangkan sel kelamin betinanya berupa ovum. Bakal buah sebagai ovarium terdapat pada dasar putik pada bunga bagian bawah. Bentuk bakal buah melebar, agak bulat, dan di dalamnya terjadi peristiwa meiosis untuk membentuk gamet metina atau ovum.
Di dalam ovarium pada bakal buah, terdapat sel induk yang disebut megasporogonium (megasporocyt) yang bersifat diploid.
Megasporogenesis di dalam avarium memeliki 2 tahap, yaitu meiosis I dan meiosis II

 a. Meiosis I
Megasporocyt membelah menghasilkan 2 asel diploid (2n) dengan fase profase I, metafase I, anafase I, dan telafase I.
- Profase I
Sebelum fase ini, sel terlebih didahului mengalami replikasi kromosomo saat interfase (f
ase istirahat) sehingga awal profase I memiliki 4n kromosom. Membran inti (karioteka) menipis, benang kromatin menebal menjadi kromosom, dan terbentuk benang spindel sebagai penghubung kedua kutub sel.
- Metafase I
Kromosom berjajar pada bidang ekuatorial sel dengan sentromer menggantung pada benang spindel. Pada fase ini kromosom menebal sempurna sehingga penginderaan secara mikroskopis dapat dilakukan.
- Anafase I
Bidang ekuatorial sel menyempit, cincin pembelahan terbentuk, setiap kromosom memisah menjadi 2 kromatid yang masing-masing menuju kutub, dan benang spindel  menipis.
- Telofase
Bagian ekuatorial semakin menyempit, kromatid menipis menjadi benang kromatin lagi, dan karioteka terbentuk, sehingga satu sel induk kini membelah menjadi 2 sel anak yang diploid.

Meiosis II
- Dua sel anak tersebut masing-masing membelah lagi dengan fase profase II, Metafase II, Anafase II, dan Telofase II sehingga menghasilkan 4 sel anak yang disebut dengan megaspora yang bersifat haploid. Keempat sel itu posisinya berdekatan dan tidak terpisah
- Tiga megaspora berdegenerasi tinggal satu yang akan berkembang.
- Inti megaspora membelah 3 kali berturut-turut sehingga membentuk 8 inti tetapi pembelahan sinti tersebut tidak disertai sitokinesis.
- Delapan inti tersebut bersifat haploid. Tiga inti terletak jauh dari lubang mikrofil disebut antipoda yang berada di kalaza, 2 inti  di tengah disebut inti kandung lembaga sekunder (megagametosit), satu inti terbesar di dekat mikrofil adalah ovum dan 2 inti yang lebih kecil terletak di dekat ovum disebut sinergid. Antipoda dan sinergid kelak akan mengalami degenerasi (hancur) setelah ovum dan inti kandung lembaga sekunder dibuahi.
Pada sel induk (mikrosporocyt dan megaporocyt) yang bersifat diploid sebelum fase pembelahan terlebih dahulu mengadakan penggandaan kromosom sehingga memiliki 4n kromosom. Setelah meiosisi I terbentuk 2 sel anak yang diploid, kemudian pada fase meiosis II terbentuk 4 sel anak yang masing-masing haploid, maka pada pembelahan meiosis terjadi pengurangan atau reduksi kromosom pada sel anak karena itu pembelahan ini disebut juga pembelahan reduksi.




MATERI DAN SOAL BIOLOGI SISTEM REPRODUKSI
  1. AIR SUSU IBU 
  2. FERTILISASI, KEHAMILAN DAN KELAHIRAN 
  3. KELAINAN PADA SISTEM REPRODUKSI
  4. ORGAN KELAMIN WANITA DAN OOGENESIS 
  5. ORGAN REPRODUKSI PRIA DAN SPERMATOGENESIS 
  6. PEMBENTUKAN GAMET PADA TUMBUHAN
  7. PEMELIHARAAN KESEHATAN ORGAN REPRODUKSI DAN PERILAKU SEKSUAL YANG SEHAT
  8. POLINASI/PERSARIAN DAN FERTILISASI 
  9. PUBERTAS DAN MENSTRUASI. 
  10. REPRODUKSI ASEKSUAL
  11. REPRODUKSI SEKSUAL
  12. Soal Biologi Sistem Reproduksi (2) 
  13. TEKNOLOGI REPRODUKSI 
  14. soal biologi sistem reproduksi


Sumber :
BIOLOGI untukSMA/MA kelas XI, R Gunawan Susilowarno, dkk, Penerbit Grasindo, 2007
 http://sule-gratis.blogspot.com/2013/01/gametogenesis.html



0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!